Ford Ubah Strategi Kendaraan Listrik, Prioritaskan Hybrid dan EREV

Foto: Ford

FORTUNE INDONESIA – Ford Motor Company mengumumkan perubahan strategi kendaraan listrik global dengan mengurangi fokus pada kendaraan listrik murni berukuran besar. Produsen mobil  asal Amerika Serikat (AS) tersebut mengalihkan investasi ke kendaraan hybrid, extended-range electric vehicle (EREV), serta kendaraan listrik berukuran kecil yang dinilai lebih relevan dengan kondisi pasar saat ini.

Perubahan arah ini disertai pembatalan sejumlah proyek kendaraan listrik. Salah satunya adalah penghentian produksi generasi saat ini dari F-150 Lightning yang sebelumnya diposisikan sebagai truk listrik andalan Ford.

Penyesuaian strategi tersebut berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Ford akan mencatat beban keuangan khusus hingga 19,5 miliar dolar AS  atau sekitar Rp325 triliun, dengan kurs Rp16.694, yang sebagian besar dibukukan pada kuartal keempat 2025.

Manajemen Ford menyampaikan bahwa kendaraan listrik berukuran besar tidak lagi menjadi prioritas utama. Modal perusahaan dialihkan ke segmen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, seperti kendaraan hybrid, EREV, serta bisnis baru dengan margin tinggi, termasuk penyimpanan energi baterai.

Pengembangan kendaraan listrik Ford akan dipusatkan di Amerika Utara (AS dan Kanada) melalui Universal EV Platform. Platform ini merupakan arsitektur fleksibel berbiaya rendah yang dirancang untuk kendaraan listrik kecil dan efisien agar lebih kompetitif dari sisi harga.

Model pertama dari platform tersebut adalah pikap ukuran menengah yang akan dirakit di Louisville Assembly Plant mulai 2027. Ford juga memastikan generasi berikutnya F-150 Lightning akan menggunakan arsitektur EREV, yakni kendaraan listrik dengan mesin pembakaran internal kecil sebagai pengisi daya baterai untuk memperpanjang jarak tempuh.

Produksi F-150 Lightning generasi saat ini telah resmi dihentikan. Tenaga kerja dialihkan ke Dearborn Truck Plant untuk mendukung penambahan shift ketiga produksi truk F-150 berbahan bakar bensin dan  hybrid. Ford juga mengubah fungsi Tennessee Electric Vehicle Center menjadi pabrik truk berbahan bakar bensin. Fasilitas tersebut akan beroperasi sebagai Tennessee Truck Plant mulai tahun 2029.

Di Ohio Assembly Plant, rencana produksi van listrik dibatalkan dan digantikan dengan produksi van komersial berbahan bakar bensin dan  hybrid. Pabrik ini juga akan memproduksi sasis kabin Super Duty mulai 2029.

Secara global, Ford menargetkan sekitar 50 persen volume penjualannya pada 2030 berasal dari kendaraan  hybrid, EREV, dan kendaraan listrik murni. Pada 2025, porsi kendaraan elektrifikasi tersebut masih berada di kisaran 17 persen.

Selain portofolio kendaraan, Ford juga memperluas bisnis ke Battery Energy Storage System (BESS).  Ini merupakan sistem penyimpanan energi listrik berbasis baterai yang umumnya digunakan untuk menstabilkan pasokan listrik skala besar.

Kapasitas pabrik baterai di Kentucky  dan Michigan akan dimanfaatkan untuk mendukung bisnis ini. Target pengiriman BESS  mencapai 20 gigawatt hour per tahun mulai 2027.

Dari sisi keuangan, Ford akan membukukan sekitar 12,5 miliar dolar AS dari total beban tersebut pada kuartal keempat tahun 2025. Sisa beban akan dicatat secara bertahap pada tahun 2026 dan 2027.

Di luar item khusus tersebut, Ford menaikkan proyeksi laba sebelum bunga dan pajak yang disesuaikan atau Adjusted Earnings Before Interest and Taxes (EBIT) 2025 menjadi sekitar 7 miliar dolar Amerika Serikat. Proyeksi arus kas bebas yang disesuaikan tetap berada di kisaran dua  hingga tiga  miliar dolar AS. (*)