Merek Mobil China Menguat di Inggris, Pangsa Pasar Tembus 10 Persen

Foto: Reuters

THE GUARDIAN – Merek mobil asal China diperkirakan menguasai satu dari setiap 10 mobil baru yang terjual di Inggris sepanjang 2025. Porsi ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya seiring ekspansi penjualan di berbagai negara Eropa.

Analis pasar kendaraan listrik Matthias Schmidt memperkirakan merek China seperti MG, BYD, dan Chery akan melampaui 200 ribu unit penjualan mobil baru di Inggris pada tahun 2025. Dengan volume tersebut, pangsa pasar mereka diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari total penjualan nasional.

Menurut Schmidt, Spanyol dan Norwegia juga mencatat kondisi serupa, sekitar sepersepuluh mobil baru berasal dari merek China. Rata-rata pangsa merek China di Eropa Barat saat ini berada di kisaran enam persen.

China unggul dalam industri kendaraan listrik berkat dorongan subsidi pemerintah dalam jangka panjang, penguasaan rantai pasok baterai lithium-ion, serta biaya tenaga kerja yang lebih rendah.

Peningkatan penjualan mobil China memicu kekhawatiran di sejumlah negara Uni Eropa (UE), terutama Jerman dan Prancis. Pemerintah dan pelaku industri di kawasan tersebut khawatir kehilangan jutaan lapangan kerja jika industri otomotif domestik terus tertekan.

Norwegia menjadi negara dengan adopsi kendaraan listrik tertinggi di dunia berkat insentif pembelian yang besar. Di Inggris dan Spanyol, banyak mobil China yang dipasarkan masih berjenis hybrid, yaitu kendaraan yang menggabungkan mesin bensin dengan baterai berkapasitas kecil.

Tu Le (pimpinan perusahaan konsultan Sino Auto Insights) mengatakan produsen China masuk ke pasar Eropa secara bertahap dan berbeda pendekatan di tiap wilayah. Strategi ini sesuai dengan tingkat dukungan dan penolakan kebijakan di masing-masing negara.

Inggris dan Norwegia belum menerapkan tarif tambahan atas impor mobil dari China, berbeda dengan kebijakan UE . Kondisi ini membuat kedua negara relatif terbuka terhadap masuknya mobil listrik dan mobil berbasis baterai dari China.

Data asosiasi kendaraan Inggris Society of Motor Manufacturers and Traders menunjukkan penjualan mobil merek China di Inggris mencapai 187.800 unit dalam 11 bulan pertama tahun berjalan 2025 lalu. Angka ini berasal dari total pasar 1,87 juta unit dan sekitar dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Schmidt menilai Inggris menjadi target menarik karena tak memiliki merek mobil massal nasional yang kuat. Rover telah berhenti beroperasi sejak awal 2000-an, Vauxhall menjadi bagian dari grup Stellantis, sementara MG telah dibeli dan diproduksi di China oleh perusahaan milik negara, SAIC.

Akibat kondisi tersebut, konsumen Inggris tak lagi memiliki pilihan untuk melakukan pembelian berbasis nasionalisme merek. Situasi ini berbeda dengan Jerman dan Prancis, sekitar setengah pasar mobil baru masih dikuasai merek domestik.

Produsen mobil Jepang menjadi pihak yang paling kehilangan pangsa pasar di Inggris. Nissan dan Toyota turun hampir satu persen. Penjualan Honda dan Suzuki juga turun. Bahkan Mitsubishi telah menarik diri sepenuhnya dari pasar.

Uni Eropa sebelumnya memberlakukan tarif masuk antara 17 persen hingga 38 persen untuk mobil listrik murni dari China. Kebijakan ini hanya berlaku untuk Battery Electric Vehicle (BEV) yaitu kendaraan yang sepenuhnya menggunakan baterai tanpa mesin bensin.

Schmidt mencatat kurang dari 40 persen model merek China yang masuk Eropa Barat pada kuartal ketiga 2025 merupakan mobil listrik murni. Kondisi ini membuat produsen China masih bisa bersaing lewat penjualan mobil hybrid yang dinilai lebih mencemari karena tetap menggunakan bahan bakar fosil.

Uni Eropa juga melonggarkan target elektrifikasi dengan mengizinkan 10 persen penjualan mobil baru masih menggunakan mesin pembakaran dalam berbahan bakar bensin atau diesel (internal combustion engine, ICE) setelah 2035. Sebelumnya, mesin jenis ini direncanakan dilarang sepenuhnya.

Sejumlah eksekutif dan analis otomotif menilai pelonggaran target tersebut justru memberi ruang bagi produsen China untuk melaju lebih cepat. Schmidt memperkirakan pangsa merek China di Eropa akan mencapai puncak mendekati 10 persen pada periode 2028 hingga 2030, sementara pangsa mereka di pasar mobil listrik diproyeksikan mencapai 13 persen. (*)