BLOOMBERG TECHNOZ – Konsep mobil bertenaga kombinasi sudah dikenal sejak awal abad ke-20. Namun mobil hybrid baru popular pada akhir 1990-an. Itu terjadi ketika Toyota Motor Corporation dari Jepang memasarkan Prius. Model ini dikenal sebagai mobil hybrid massal pertama di dunia. Model ini juga pertama memperkenalkan konsep berkendara listrik sebelum infrastruktur pengisian daya tersedia luas.
Sebagian besar mobil hybrid menggabungkan mesin pembakaran internal (internal combustion engine, ICE) dengan motor listrik. Energi listrik disimpan dalam baterai yang diisi dari mesin dan dari regenerative braking, yakni energi pengereman yang biasanya terbuang saat kendaraan melambat.
Jenis lain adalah plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Model ini memungkinkan baterai diisi dari sumber listrik eksternal, seperti pengisian daya publik, sehingga jarak tempuh dengan tenaga listrik bisa lebih panjang.
Mobil hybrid umumnya memaksimalkan motor listrik saat digunakan di perkotaan dengan kondisi lalu lintas berhenti dan berjalan. Pada kecepatan tinggi, sistem akan lebih banyak mengandalkan mesin bensin untuk efisiensi daya.
Tipe hybrid lain dikenal sebagai extended-range electric vehicle (EREV). Pada sistem ini, roda digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik, sementara mesin bensin hanya berfungsi sebagai generator untuk menjaga daya baterai.
Konsep EREV sempat digunakan pada model awal seperti Chevrolet Volt lebih dari satu dekade lalu. Produsen otomotif China kemudian mengembangkan ulang teknologi ini dengan jangkauan lebih panjang dan efisiensi generator yang lebih baik.
Selama bertahun-tahun, pertumbuhan pesat mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) membuat mobil hybrid dianggap hanya solusi sementara. Narasi industri saat itu didominasi produsen yang fokus pada EV, termasuk Tesla Inc., seiring lonjakan penjualan kendaraan listrik penuh.
Memasuki sekitar 2023, mobil listrik mulai menyasar konsumen yang lebih sensitif terhadap harga di pasar Barat. Namun, harga yang relatif mahal, keterbatasan jarak tempuh, serta minimnya infrastruktur pengisian daya membuat sebagian konsumen menahan minat.
Kekhawatiran terhadap usia pakai baterai juga menjadi faktor keraguan. Kondisi ini mendorong sebagian pengemudi beralih ke mobil hybrid sebagai solusi untuk menekan emisi tanpa mengubah kebiasaan pengisian bahan bakar.
Sejumlah pemerintah melonggarkan insentif dan regulasi kendaraan listrik. Kondisi ini mendorong produsen mobil Amerika dan Eropa seperti Ford Motor Company dan Volkswagen AG mengurangi fokus pengembangan Electric Vehicle (EV) dan mengalihkan investasi ke teknologi hybrid.
Produsen mobil Asia seperti Toyota dan Honda Motor Company yang konsisten mengembangkan hybrid dinilai lebih sejalan dengan perubahan sentimen konsumen. Di Eropa, pertumbuhan mobil hybrid paling kuat terjadi di wilayah selatan karena harga EV masih tinggi dan infrastruktur pengisian daya belum merata.
Mobil hybrid sempat diposisikan sebagai solusi menuju netralitas karbon, tetapi kembali diperdebatkan setelah penjualan EV meningkat pada awal dekade ini. Toyota mendorong pendekatan multi-pathway, yakni strategi yang menggabungkan hybrid, EV, dan kendaraan sel bahan bakar hidrogen untuk menurunkan emisi lebih cepat dalam jangka pendek.
Kelompok pemerhati iklim menilai klaim tersebut belum sepenuhnya terbukti, terutama pada PHEV. Data dari organisasi nirlaba berbasis di Eropa yang bergerak di bidang advokasi kebijakan transportasi dan lingkungan menunjukkan PHEV rata-rata hanya menghasilkan 19 persen emisi karbon dioksida lebih rendah dibanding mobil bensin dan diesel, sementara penggunaan nyata sering terkendala rendahnya pengisian daya akibat faktor biaya listrik dan keterbatasan akses pengisian di perkotaan. (*)









