Berita Economy & Industry

Investasi 11 Miliar Dolar, Hyundai-LG Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di Karawang

JAKARTA— Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meresmikan peletakkan batu pertama (groundbreaking) yang menandai pembangunan pabrik baterai mobil listrik proyek Hyundai Motor Group dengan LG Energy Solution di Karawang (Jawa Barat). Diharapkan, melalui langkah tersebut Indonesia bisa keluar dari jebakan negara pengekspor bahan baku dalam proses transformasi era elektrifikasi kendaraan bermotor karena industri hilirisasi-nya berjalan. 

“Indonesia berkomitmen memberikan dukungan pengembangan ekosistem atas industri baterai dan kendaraan listrik melalui reformasi struktural. Sehingga bisa memberikan kepastian hukum sekaligus kemudahan perizinan,” katanya dalam tayangan di YouTube Sekretariat Presiden, Rabu 15 September 2021, seperti dikutip KOMPAS.com. 

Proyek ini sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding, MoU) dengan pemerintah RI untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk memproduksi sel baterai dari mobil listrik. Pada tanggal 28 Juli 2021, Sung Hwan Cho (President and CEO Hyundai Mobis) dan Jong Hyun Kim (President LG Energy Solution) melakukan seremonial penandatangan MoU di kantor pusat LG Energy Solution, Seoul (Korea Selatan). 

Bahlil Lahadalia (Menteri Investasi Indonesia) dan Toto Nugroho (Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation, IBC) juga turut menghadiri seremonial tersebut secara virtual. Melalui MoU ini, Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution menginvestasikan dana 1,1 miliar dolar AS ke dalam joint venture untuk membangun pabrik sel baterai di Karawang (Jawa Barat). Adapun dalam konsorsiumnya, industri asal Korea Selatan tersebut bermitra dengan Indonesia Battery Corporation yang beranggotakan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara, dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. 

Pembangunan pabrik ini hanya bagian dari total proyek konsorsium senilai 9,8 miliar dolar AS. Rencananya, pembangunan pabrik selesai pada semester pertama 2023 dan produksi massal sel baterai pada satu tahun setelahnya. “Melalui manajemen pengelolaan baik Indonesia akan menjadi produsen utama bagi produk-produk yang berbasis nikel, termasuk baterai mobil listrik 3-4 tahun mendatang,” kata Jokowi. “Nilai tambah akan meningkat enam sampai tujuh kali lipat kalau nikel jadi sel baterai. Kalau jadi mobil listrik, nilainya bertambah 11 kali lipat. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi negara lain untuk investasi,” lanjutnya. (*)