Pemerintah Mendorong Industri Otomotif Jadi Tulang Punggung Ekspor Nasional

 JAKARTA— Industri otomotif diproyeksikan menjadi tulang punggung dalam mendongkrak angka ekspor nasional. Proyeksi ini berdasarkan pada peta jalan Making Indonesia 4.0, bahwa industri otomotif termasuk bagian dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan. Tujuannya, agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing global dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

“Kami optimistis, sektor industri otomotif bisa menjadi primadona untuk mendongkrak ekspor nasional. Targetnya pada 2030, industri otomotif di Indonesia ada yang menjadi champion, baik itu untuk produksi mobil internal combustion engine (ICE) atau electrified vehicle(EV),” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian RI Harjanto melalui keterangan resminya, Kamis, 15 Agustus 2019.

Harjanto menuturkan, guna menggenjot nilai ekspor dari sektor otomotif, Kementerian Perindustrian fokus mendorong penguatan rantai pasok dan pendalaman struktur manufaktur. “Kami berusaha untuk terus menumbuhkan ekspornya, sehingga pada 2025, industri otomotif nasional dapat melakukan ekspor mobil dalam keadaan utuh (completely built up, CBU) sebesar satu juta unit ke lebih dari 80 negara,” katanya.

Sebab itu, pengembangan produktivitas dan daya saing industri otomotif perlu sejalan dengan pengembangan industri komponen. Ini karena produk industri alat-alat kendaraan bermotor merupakan bagian dari rantai pasok bagi original equipment manufacturer (OEM) maupun layanan purna jual industri kendaraan bermotor, yang memiliki pangsa pasar sangat luas, baik domestik maupun ekspor.

“Jadi, sektor tersebut juga berpeluang untuk terus dikembangkan teknologinya sehingga mampu bersaing di pasar global,” kata Harjanto.

Secara nasional, saat ini terdapat 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia yang terbagi dalam Tier 1, Tier 2dan Tier 3 yang tersebar di seluruh Indonesia terutama di Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dirjen ILMATE mengemukakan potensi industri otomotif di Indonesia terlihat dari capaian ekspor produk otomotif dan komponennya yang terus menunjukkan peningkatan. Pada 2018, ekspor CBU sebanyak 265 ribu unit, kemudian ekspor mobil dalam keadaan terurai (completely knocked down, CKD) sekitar 82 ribu set, serta komponen lebih dari 86,6 juta.

“Hingga Juli 2019, nilai ekspor produk tersebut telah melampaui 50 persen dari pencapaian ekspor 2018,” katanya.

Pada 2019, ekspor mobil produksi Indonesia ditargetkan menembus di angka 400 ribu unit. “Kita sudah ekspor ke lebih dari 80 negara, dengan lima negara tujuan utamanya, antara lain Filipina, Saudi Arabia, Jepang, Meksiko, dan Vietnam,”katanya.

Kekuatan industri otomotif di Indonesia, juga akan dipacu melalui peningkatan kapasitas seiring dengan masuknya sejumlah investasi. “Pada periode Januari hingga Juni 2019, produksi mobil sudah mencapai 600 ribu unit. Adapun penjualan domestik sebesar 500 ribu unit,” katanya. (*)